LATAR BELAKANG

Keberhasilan pembangunan nasional sangat terkait dengan kuailitas sumber daya manusia, pemerintah telah berupaya mengoptimalkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia melalui sektor pendidikan, baik melalui jalur pendidikan formal maupun nonformal. Salah satu jalur pendidikan formal yang menyiapkan lulusannya untuk memiliki keunggulan didunia kerja adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tujuan penting pengembangan program pendidikan SMK adalah menyiapkan sumber daya manusia yang siap memasuki dunia kerja, memiliki kepemimpinan yang tinggi, disiplin, profesiaonal, handal dibidangnya dan produktif. Idealnya lulusan SMK merupakan tenaga kerja tingkat menengah yang siap dipakai, dalam pengertian langsung bisa bekerja didunia usaha dan industri.

Tantangan SMK saat ini antara lain adalah masih lemahnya kerja sama/sinergitas antara SMK dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), keterbatasan kualitas dan kuantitas peralatan, rendahnya biaya praktik, dan lingkungan belajar yang belum sesuai dengan lingkungan DUDI. Tantangan lainnya yang dihadapi SMK adalah menghadapi keterbukaan ekonomi, sosial dan budaya antar negara secara global, khususnya dalam menghadapi penerapan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang telah diberlakukan sejak akhir tahun 2015. Indonesia dihadapkan pada persaingan yang makin ketat termasuk dalam penyediaan tenaga kerja dibidang pertanian, kemaritiman,pariwisata, industri, perdagangan dan lapangan kerja lainya. Apabila Indonesia tidak menyiapkan tenaga terampil dapat dipastikan Indonesia hanya akan menjadi lahan tempat bekerja bagi tenaga kerja terampil dari negara-negara anggota MEA lainnya. Direktorat PSMK dalam salah satu programnya berupaya meningkatkan kerja sama dengan DUDI dengan tujuan untuk membangun kemitraan SMK dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan mempercepat waktu penyesuaian bagi lulusan SMK untuk memasuki dunia kerja.

Di negara maju, peran industri telah ditunjukan secara nyata melalui kerja sama program, dukungan finansial,dan beasiswa. Bahkan dibeberapa negara peran industri ini telah menjadi kewajiban karena telah diatur dalam regulasi yang berlaku.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah berupaya secara maksimal meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui berbagai program pendidikan, menanamkan jiwa wirausaha disetiap jenjang dan tingkat pendidikan.Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (Direktorat PSMK) berpartisipasi dengan berupaya meningkatkan kompetensi kerja dan jiwa wirausaha lulusan SMK. Direktorat Pembinaan SMK dalam Rencana Strategis 2015-2019 memiliki visi terbentuknya insan dan ekosistem pendidikan SMK yang berkarakter berlandaskan gotong royong. Salah satu program prioritas untuk merealisasikan visi tersebut adalah dengan program pengembangan pembelajaran teaching factory.Dalam RPJMN 2015-2019 telah ditergetkan 200 SMK akan mengikuti program pembelajaran kewirausahaan dan teaching factory.

Pembelajaran teaching factory adalah model pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa yang mengacuh pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi diindustri. Implementasi teaching factory di SMK dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri, dan kompetensi yang dihasilkan oleh SMK. Pelaksanaan teaching factory menuntut keterlibatan mutlak pihak industri sebagai pihak yang relevan menilai kualitas hasil pendidikan di SMK. Pelaksanaan teaching factory juga harus melibatkan pemerintah, pemerintah daerah dan stakeholders dalam pembuatan regulasi, perencanaan, implementasi maupun evaluasinya.

Dalam proses pendidikan di SMK, keterlibatan DUDI dalam proses pembelajaran sangat penting, karena perkembangan teknologi dan prosedur/proses produksi/jasa sngat pesan. Penarapan teaching factory di SMK akan mendorong terbangunnya mekanisme kerja sama antar SMK dan DUDI yang saling menguntungkan, sehingga SMK akan selalu mengikuti perkembangan industri/jasa secara otomatis dalam transfer teknologi, manajerial, perkembangan kurikulum, prakerin dan lainnya.

Dengan menerapkan pembelajaran teching factory diharapkan akan meningkatkan kompetensi lulusan SMK yang relevan dengan kebutuhan industri/jasa sehingga akan berdampak pada penguatan daya saing tenaga kerja dan industri di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top